Menerapkan Social Distancing dengan Toxic People


Sebelum ada di titik ini aku adalah orang yang sangat terbuka dengan semua manusia baik mereka yang baru kenal maupun yang belum kenal sekalipun.
Aku adalah orang yang senang berbaur dengan manusia-manusia di dunia sebelum sebagian mereka membuatku kecewa.

Keadaan waktu itu membuatku berubah 80% untuk bersosialisasi dengan orang-orang sekitar baik di dunia maya maupun di dunia nyata.
Kini aku lebih suka menyendiri daripada menghabiskan banyak energi dan berbasa-basi dengan mereka yang terlanjur menyakiti.

Sekarang aku lebih selektif dalam memilih orang-orang atau teman-teman yang akan masuk ke dalam kehidupanku.
Aku lebih suka mengamati dan mengenal lebih jauh terlebih dahulu sebelum aku memulai sebuah perkenalan dan pertemanan dengan mereka.
Aku ngga mau berteman dengan orang-orang toxic kembali yang akan memberikan dampak negatif terhadap kehidupan yang sedang aku jalani sekarang.
Mereka hanya memberikan dampak tidak baik untuk perkembangan jiwa ini yang rentan terluka.

Mau ngga mau aku harus memberanikan diri untuk  belajar lebih tegas dalam memutuskan siapa saja orang-orang yang bisa masuk dalam kehidupanku tanpa ragu-ragu dan basa-basi dengan mereka terlebih dahulu.
Mau mereka beranggapan sombong atau keras kepala itu hak mereka,aku ngga bisa berkorban terus menerus atas perasaan ngga nyaman yang aku rasakan selama ini hanya demi menjaga perasaan mereka.
Aku berfikir rasanya aku berhak bersuara mengatakan iya atau tidak atas semua sikap dan sifat mereka yang hanya menjengkelkan hati.

For me.............
Kenyamanan dari sebuah pertemanan adalah sama-sama berjuang untuk menjadi lebih baik,menjunjung tinggi sebuah kebenaran dan menjauhi sebuah perdebatan. Semua itu hanya bisa kita dapatkan dalam pertemanan yang di dalamnya ada kasih sayang Allah dan karena Allah hingga berbuah pertemanan sampai syurga-Nya Allah.
Selain daripada itu pertemanan tersebut hanya sia-sia dan mendatangkan ujian belaka,naudzubillah jangan sampai terulang kembali.
Karena sebenarnya kita hanya memiliki dua teman dalam hidup ini,pertama adalah Allah dan yang ke dua adalah orang yang selalu mengingatkan kita kepada Allah.
So i now lebih suka sendiri dan menikmati kesendirian serta fokus pada apa yang sedang dan akan terjadi.

Semoga yang pernah kenal dan menjadi teman Allah jadikan perkenalan dan pertemanan kita sampai syurga.  
Dengan kasih sayang-Nya,Allah mudahkan kita untuk berlajar sama-sama apa yang Allah mau dan Allah inginkan.
Untuk sebagian teman maafkan temanmu yang saat ini hanya ingin berdua dengan Allah,bukannya keras kepala atau sombong tapi terkadang yang sejalan tak selamanya sepaham.

Perbedaan antara kita bukannya membuka percakapan tapi malah menjadikan perdebatan,astaghfirullah
Semoga Allah memberikan waktu yang tepat untuk membuka kembali sebuah percakapan yang terlewatkan. Sayang kalian karena Allah SWT.
Berharap sebagian teman dan sahabat menghargai keputusan ini sampai semuanya terobati.

Memilih pergi bukan berarti membenci.
Bukan karena tidak dewasa.
Tapi semata-mata untuk menyembuhkan luka.
Akan ada saatnya kita sebagai manusia membutuhkan privasi sampai semuanya teratasi.
Dan bersedia hadir kembali tanpa mengungkit apa yang telah terjadi.

Sometimes..
Tidak ada cukup kata untuk menggambarkan perasaan,
Jadi aku lebih suka mengungkapkannya melalui keheningan,
Keheningan yang di dalamnya terdapat kasih sayang Allah SWT di sepertiga malam.

Aku telah terbiasa melewati masa-masa terburuk dalam hidup seorang diri,
So i'm sorry jika aku sering bersikap seakan-akan tidak membutuhkan bantuan siapapun dalam hidup ini,
I have Allah SWT and that's enough for me.

Kita selalu merasa seorang diri di dunia ini sehingga kita membutuhkan pertemanan yang secara umum hanya untuk mengisi kekosongan dan kesepian hati.
Kita lupa bahwa ada Allah SWT yang selalu setia menemani,menjaga,merawat,dan mencintai kita setiap waktu,setiap hari,bahkan selamanya.

Memang benar...
Beda manusia,beda caranya masing-masing.
Jadi jalani saja sesuai porsi masing-masing dengan cara masing-masing tanpa melanggar apa yang telah Allah atur dan Allah rancang sedemikian mungkin.
Tapi jangan sampai cara kita membuat kita bertahan dalam lingkungan yang sebenarnya hanya membuat kita kecewa dan memberikan dampak negatif untuk diri kita.

Siapapun aku,siapapun kamu,bagaimana kepribadiaanku,bagaimana kepribadianmu,bersyukurlah dan belajar untuk saling menerima kekurangan masing-masing.
Cintai diri kita sepenuh hati dan jangan minder atas semua perubahan dalam diri.
Jangan pernah takut sendiri. Kita berhak memutuskan kebahagiaan dan kenyamanan untuk diri kita pribadi.
Belajar tegas untuk keluar dari lingkungan yang hanya memberikan sebuah luka.
Berbanggalah dengan apa adanya kita sekarang.
Karena kita diciptakan berbeda sikap,sifat dan rupa namun satu tujuan yaitu menjadi penduduk syurga.
Aamiin

Salam ukhuwah fillah till jannah


Komentar