Cinta dalam Diam
Terkisah dua orang yang saling mencintai karena Allah SWT dalam diam,mereka adalah Arif dan Hana. Arif adalah salah satu anak yang terlahir dari keluarga yang sangat menjunjung tinggi nilai agama islam. Begitupun dengan Hana,dia adalah anak yang terlahir dari orang tua yang berlatar belakang berpendidikan agama. Mereka selalu pergi bersama dan berada dalam lingkungan yang sama dikarenakan orang tua Hana sangat percaya kepada Arif.
Sekarang Hana dan Arif telah duduk dibangku SMA kelas 2. Disini Hana telah keliru dengan perasaan yang ia rasa kepada kaka kelas di sekolahnya. Kaka kelas yang selalu memberikan motivasi agama untuk Hana sekaligus mengajak Hana untuk berpacaran yang beralasan syar'i,dia adalah Sandi.
Selama ini Arif selalu setia menunggu Hana ketika Hana bertemu dengan Sandi di taman sekolah. Karena jika Arif pulang terlebih dahulu tanpa Hana, orang tua Hana pasti akan segera mencari Hana. Oleh karena itu Arif merelakan waktu dan hatinya untuk setia menunggu Hana yang selalu asyik berbincang di taman bersama Sandi.
Hana hampir setiap hari berbohong kepada orang tuanya tentang tugas tambahan atau kerja kelompok yang menyebabkan ia pulang terlambat. Hana pun selalu membawa nama Arif didalam kebohongan yang ia ucapkan kepada orang tuanya agar orang tuanya percaya kepadanya.
Sampai dimana Hana tersakiti oleh sikap Sandi,karena Sandi dengan sengaja mendekati salah satu temannya. Hati hana hancur dan Sandi pun dengan tegasnya memutuskan Hana,dan hubungan mereka pun berakhir dengan kebencian.
Sepulang sekolah Hana menangis di taman yang selalu ia datangi bersama Sandi, Hana merasa menyesal,ia telah rela membohongi orang tuanya demi laki-laki seperti Sandi.
Arif pun mengamati Hana dari jauh dan mencoba untuk menghampirinya
Dengan nada pelan arif menasehati Hana yang sedang menangis pilu, "kan sudah aku bilang Han,laki-laki yang mencintaimu itu tidak akan mengajakmu berzina," ucap Arif lantang
Dengan nada tegas dan sedikit keras Hana menjawab "aku tidak berzina Rif" ucapnya
"Kalau bukan berzina lantas apa yang kau lakukan bersama Sandi kemarin?" tanya Arif kepada Hana yang masih menangis pilu
"Kita hanya bertukar pendapat dan bercerita tentang masa depan,tidak lebih dari itu" jawab Hana tegas
Arif pun terdiam.. Dia memang tau kalau yang dilakukan Hana dan Sandi tak pernah macam-macam karena selama ini Arif selalu waspada mengawasi Hana dari jauh
"Aku kasih tau ya Han, zina itu bukan hanya tentang menghasilkan seorang anak saja, tapi zina itu banyak jenisnya, seperti zina fikiran,zina hati,dan zina pandangan" ucap Arif kepada Hana
"Iya aku menyesal Rif,aku ngga mau jatuh dalam cinta yang semu lagi" jawab Hana
"Laki-laki yang mencintaimu, dia akan mendo'akanmu Han, bukan mendekatimu apalagi memandangmu dengan jarak dekat," nasehat Arif kembali kepada Hana
"Memang kamu lagi merasakannya Rif?" tanya Hana serius
"Tidak, aku tau semuanya dari Abi. Abi yang selau menasehati aku", ucap Arif yang terlanjur kaku
"Iya Rif,aku paham sekarang makasih ya nasehatnya" ucap Hana kembali
"Arif pun hanya mengangguk dan menunduk."
Arif adalah laki-laki shaleh yang tak berani memandang perempuan kecuali ibu nya dan keluarganya saja. Selebihnya, pandangannya selalu ia jaga terlebih kepada Hana, wanita yang ia sukai sejak dulu. Meskipun selama ini ia telah merasa berdosa karena ia selalu memperhatikan wajah Hana dari jauh ketika Hana dan Sandi sedang berada di taman, tapi ia berjanji pada dirinya bahwa pandangan yang ia pandang akan menjadi pandangan selamanya. Arif mempunyai niat besar di depan nanti untuk melamar Hana dan menjadikan Hana istrinya.
Singkat cerita... Setelah sama-sama lulus di universitas yang sama, Arif pun memberanikan diri untuk melamar Hana. Tapi disaat ia mulai memberanikan diri, terlihat ada salah satu kendaraan yang parkir di rumah Hana.
Setelah ia amati ternyata kendaraan itu milik Sandi. Sandi datang ke rumah Hana untuk niat melamar Hana dan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat.
Hati Arif hancur
"Sudah pasti Hana memilih Sandi, ia kan masih mencintai Sandi, mungkin memang aku bukan yang terbaik untuk Hana" gumam Arif dalam hatinya
Arif pun pergi meninggalkan rumah Hana dengan perasaan kecewa
Qadarullah ternyata Hana menolak lamaran Sandi, karena Hana pun memiliki perasaan yang sama dengan Arif, menurutnya Arif adalah lelaki yang mampu menjadikan ia wanita yang lebih baik sampai saat ini. Hanya saja Hana sadar diri,dia selalu berfikir bahwa dia tidak pantas untuk laki-laki shaleh seperti Arif.
"Aku kan pernah pacaran, mana mungkin dia mau denganku" ucap Hana ketika sendiri mengungkapkan fikirannya yang selalu membebaninya setiap waktu
"Rasanya tak ada pilihan lain, daripada aku menggantungkan perasaan ini kepada Arif, lebih baik aku jujur kepada ibu kalau aku ingin minta ayah dan ibu lamarkan Arif untukku. Bunda Kahdijah pun bersikap demikian kepada Rasulullah SAW. Kenapa aku tidak?" gumam Hana dalam hati
Akhirnya Hana pun memberanikan diri untuk berkata jujur kepada ibunya tentang perasaan yang ia rasakan selama ini, Hana meminta orang tuanya melamarkan Arif untuknya. Orang tuanya pun setuju dengan keinginan Hana, karena memang harapan orang tuanya Hana mendapatkan suami seperti Arif.
Saat itu Arif yang sedang berada diluar rumah, ditelpon abi nya untuk segera pulang. Sesampainya dirumah Arif merasa tak percaya atas semua yang terucap oleh kedua orang tuanya dan orang tua Hana. Tanpa berfikir kembali Arif pun menerima lamaran Hana.
Besoknya Arif yang kembali melamar Hana
Arif dan Hana sama-sama tak percaya atas semua yang mereka rasakan selama ini. Keraguan atas ketidakpastian membuat mereka takut untuk mengungkapkan perasaan yang mereka pendam selama ini.
Kini mereka pun telah berada dalam ikatan halal, Allah mendengar do'a-do'a Arif disaat Arif ingin menjadikan pandangannya kepada Hana itu pandangan untuk selamanya. Ternyata benar, pandangan Arif diwaktu itu kepada Hana sekarang telah menjadi pandangan untuk selamanya. Sekarang Hana telah benar-benar menjadi istrinya, istri yang selalu ia pandang setiap saat dan ia do'akan setiap waktu.
-Selesai-
................................................
Dari cerita diatas dapat kita ambil kesimpulannya:
1. Pacaran yang beralasan syar'i mengatas namakan Allah SWT hanya berakhir kekecewaan, dalam hal dan alasan apapun pacaran tetap mendekati zina dan berakhir penyesalan
2. Jangan pernah membohongi orang tua dengan alasan apapun,karena itu semua termasuk dalam dosa besar
3. Zina hati dan zina fikiran adalah zina yang sering kita abaikan
4. Allah Maha Mendengar dan Maha Mengingat segala do'a-do'a hamba-Nya
Mohon maaf jika ada kesamaan nama,tempat ataupun persamaan jalan cerita dengan apa yang tertulis,semuanya terjadi atas unsur ketidaksengajaan. Ini hanyalah sebuah cerita imajinasi bukan cerita kenyataan yang terjadi dalam kehidupan.
Selamat hidup berbahagia karena Allah SWT :)
Komentar
Posting Komentar